Foto: Turis yang diserang komodo (dok istimewa/Risal)

sergap.id, BAJO – Seorang turis asal Malaysia diserang komodo, Selasa (2/5/17) siang. Kaki kirinya sobek dan mengeluarkan banyak darah. Beruntung ia masih selamat dari kematian.

Turis yang belum diketahui namanya itu tinggal di sebuah homestay di Kampung Komodo, Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. “Iya terjadi tadi siang,” ujar Risal, seorang ranger kepada detikTravel, Rabu (3/5/2017). Risal mengaku tidak berada di lokasi, namun mengetahui informasi dari masyarakat.

Kampung Komodo berada di sebelah kiri dari Loh Liang (tempat biasa turis untuk trekking dan melihat komodo). Kampung Komodo dihuni sekitar 1.700-an orang dan sering sekali dikunjungi turis. “Turis itu katanya berasal dari Malaysia atau Singapura. Menurut informasi, dia jalan-jalan sendiri ke pantai dan hutan. Nah mungkin di sana dia bertemu komodo dan digigit,” terang Risal.

Turis itu diyakini sudah datang lebih dulu ke Loh Liang untuk trekking. Dia datang untuk foto-foto dengan peralatan kamera yang lengkap. Selanjutnya, dia bermalam di Kampung Komodo. “Setelah diserang dia meminta tolong dan langsung ditolongin warga. Mungkin kalau seperti itu, masih tidak terlalu jauh dari pemukiman,” lanjut Risal.

“Info terakhir kakinya sudah dijahit. Karena sobek dibawa ke rumah sakit di Labuan Bajo. Seperti ini sangat disayangkan, karena peraturan paling utama di Pulau Komodo adalah turis jangan jalan-jalan sendiri. Harus ditemani ranger jika sedang di Loh Liang dan kalau di Kampung Komodo harus mendengarkan aturan dari pemilik homestay,” katanya.

“Salah seorang ranger kita, Pak Basra kemarin memandu turis yang digigit itu. Kata Pak Basra, dia minta foto yang ‘aneh-aneh’,” kata Risal.

Para turis sedang menyaksikan seekor komodo tua.

Yang dimaksud, foto ‘aneh-aneh’ itu adalah tidak menaati aturan memotret komodo. Asal tahu saja, kalau mau memotret komodo harus didampingi ranger dan jangan terlalu dekat. “Dia mau foto-foto dari dekat, memotret jejak komodo dan lain-lain. Permintaanya justru berbahaya buat dirinya sendiri dan kami tidak kabulkan,” jelas Risal.

“Sedangkan kalau di Kampung Komodo, tidak ada ranger. Tapi orang-orang di sana akan mengingatkan turis untuk tidak jalan-jalan sendiri dan lain-lain, intinya agar turis juga selamat dan tidak diserang komodo,” tutup Risal.

“Ada belasan homestay di Pulau Komodo untuk turis yang mau bermalam. Kampung Komodo masih masuk dalam Taman Nasional Komodo,” kata Risal.

Komodo yang menetapi Pulau Komodo jumlahnya ribuan. Namun, komodo di sana hidupnya menyebar dan kebanyakan di dalam hutan yang tidak dihuni penduduk. Kalau jumlah komodo di kampungnya, kata Risal bisa mencapai 30-an ekor.

“Penduduk di Pulau Komodo sudah terbiasa dengan komodo, karena kita juga percaya kalau zaman dulu komodo dan manusia adalah bersaudara. Rumah-rumah di sana modelnya seperti rumah panggung dan kandang-kandang kambing diberi pagar-pagar yang tinggi dan rapat,” papar Risal.

Ian, salah seorang penduduk asli Pulau Komodo pun punya pendapat yang sama. Dia menjelaskan, orang-orang di Pulau Komodo tidak berburu komodo untuk dimakan dan malah menjaganya. (Riz/Dtk)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.